PANDANGAN ISLAM TERHADAP PESERTA DIDIK BERKEBUTUHAN KHUSUS


Istilah peserta didik berkebutuhan khusus merupakan istilah untuk menyebut peserta didik yang dalam pendidikannya memerlukan perlakuan khusus. Perlakuan khusus ini bukan dimaksudkan untuk mendiskreditkan peserta didik tersebut, akan tetapi hal ini diperlukan untuk mengembangkan potensi akademik dari peserta didik tersebut. Lalu siapakah yang disebut dengan peserta didik berkebutuhan khusus itu?
Peserta didik berkebutuhan khusus dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok yaitu:
A. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan

1. Tidak mampu melihat
2. Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter
3. Kerusakan nyata pada kedua bola mata,
4. Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan
5. Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya
6. Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/ kering
7. Peradangan hebat pada kedua bola mata
8. Mata bergoyang terus.

B. Tunarungu: Anak yang mengalami gangguan pendengaran

1. Tidak mampu mendengar
2. Terlambat perkembangan bahasa
3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi
4. Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara
5. Ucapan kata tidak jelas
6. Kualitas suara aneh/monoton
7. Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar
8. Banyak perhatian terhadap getaran
9. Keluar nanah dari kedua telinga
10. Terdapat kelainan organis telinga.

C. Tunadaksa : anak yang mengalami kelainan anggota tubuh / gerakan, dengan ciri-ciri :

1. Anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh
2. Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali), Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa
3. Terdapat cacat pada alat gerak
4. Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam
5. Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal

D. Anak berbakat/anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. Ciri-cirinya adalah:

1. Membaca pada usia lebih muda,
2. Membaca lebih cepat dan lebih banyak,
3. Memiliki perbendaharaan kata yang luas,
4. Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat
5. Mempunayi minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa
6. Mempunyai inisiatif dan dapat berkeja sendiri
7. Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal
8. Memberi jawaban-jawaban yang baik
9. Dapat memberikan banyak gagasan
10. Luwes dalam berpikir,
11. Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan,
12. Mempunyai pengamatan yang tajam,
13. Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati,
14. Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri,
15. Senang mencoba hal-hal baru,
16. Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi,
17. Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan-pemecahan masalah,
18. Cepat menangkap hubungan sebab akibat,
19. Berperilaku terarah pada tujuan,
20. Mempunyai daya imajinasi yang kuat,
21. Mempunyai banyak kegemaran (hobi),
22. Mempunyai daya ingat yang kuat,
23. Tidak cepat puas dengan prestasinya,
24. Peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi),
25. Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.

E. Tunagrahita. Ciri-cirinya adalah:

1. Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar
2. Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
3. Perkembangan bicara/bahasa terlambat
4. Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan (pandangan kosong),
5. Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali
6. Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler).

F. Anak lambat belajar (Slow learner). Ciri-cirinya adalah:

1. Rata-rata prestasi belajarnya kurang dari 6,
2. Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya
3. Daya tangkap terhadap pelajaran lambat
4. Pernah tidak naik kelas

G. Anak berkesulitan belajar, spesifikasinya :

I. Anak yang mengalami kesulitan membaca

1. Perkembangan kemampuan membaca terlambat
2. Kemampuan memahami isi bacaan rendah
3. Sering terdapat kesalahan ketika membaca

II. Anak yang mengalami kesulutan belajar menulis (disgrafia)

1. Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai
2. Sering salah menulis, menulis huruf sering terbalik
3. Tulisannya jelek dan tidak terbaca
4. Tulisan sering salah, huruf, terbalik ataupun hilang
5. Sulit menulis lurus di atas kertas tidak bergaris

III. Anak yang mengalami kesulitan berhitung (diskalkulia)

1. Sulit membedakan tanda-tanda matematika
2. Sulit mengoperasikan bilangan/hitungan
3. Sulit membilang dengan urut
4. Sulit membedakan angka-anggka tertentu
5. Sulit membedakan bangun-bangun geometri

H. Anak dengan gangguan komunikasi

1. Sulit menangkap isi pembicaraan orang lain,
2. Tidak lancar dalam berbicara/mengemukakan ide
3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi
4. Kalau berbicara sering gagap/gugup
5. Suaranya parau/aneh
6. Tidak fasih mengucapkan kata-kata tertentu/celat/cadel
7. Organ bicaranya tidak normal/sumbing

I. Tunalaras : Anak dengan gangguan emosi

1. Sering membangkang
2. Mudah terangsang emosinya
3. Sering melakukan tindakan agresif &
4. Sering melakukan tindakan yang melanggar norma sosial, norma susila dan hukum

Selain dari klasifikasi anak berkebutuhan khusus diatas ada beberapa anak yang dapat digolongkan sebagai anak berkebutuhan khusus yaitu:
1. Anak yang terkucilkan dari komunitasnya karena alasan etnis seperti perbedaan ras, suku gaya hidup dan lain-lain
2. Anak yang terkucilkan dari komunitasnya karena suatu penyakit misalnya: epilepsi, dan lain-lain.
3. Pekerja anak-anak seperti: anak jalanan, pengamen, dan lain-lain.
4. Anak dari orang tua yang mempunyai riwayat pekerjaan negatif seperti : anak-anak dari pekerja seks komersial, anak-anak dari para perampok, pencopet, dan lain-lain.

Klasifikasi dan karakteristik anak berkebutuhan khusus seperti di atas telah memunculkan berbagai teori mengenai anak berkebutuhan khusus baik dari sisi per-undang-undangan, pendidikan konvensional, maupun pandangan sosial / kemasyarakatan. Akan tetapi bagaimana pandangan Islam terhadap mereka?

Ada beberapa tinjauan pandangan Islam terhadap anak berkebutuhan khusus, yaitu:

A. Ditinjau dari sisi historis:

Ada beberapa sahabat Rasulullah yang berkebutuhan khusus pada masa tersebut dan turut dalam perjuangan rasulullah menegakkan agama Islam seperti misalnya:

1. Bilal Bin Rabbah
Bilal Bin Rabbah adalah seorang budak berkulit hitam legam milik seorang bangsawan Quraisy bernama Umayah Bin Kalab. Ia masuk Islam langsung di hadapan Rasulullah secara diam-diam. Sejarah masuknya Bilal dalam agama Islam terjadi sangat menyakitkan. Takdir telah menjadikannya seorang budak mengikuti jejak ibunya. Hari demi hari ia jalani dengan siksaan demi siksaan dari tuannya, dan begitulah rutinitasnya setiap hari dan tak ada hari-hari yang bermakna dalam kehidupannya. Ia mendengar adanya agama baru yang datang dari langit dan akan melepaskan perbudakan dari bisik-bisik masyarakat Makkah dan juga pada saat ia melayani tamu-tamu majikannya. Ia pun merenungkan tentang berita yang didengarnya tersebut. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi menemui Rasulullah SAW dan berbai’at mengucapkan dua kalimah syahadat.
Berita tentang masuknya Bilal ke dalam agama baru yang dianggap sebagai agama yang mencela aqidah nenek moyang mereka tersebut dirasa sangat meng-injak-injak harga diri Umayah dan kaum Kafir Quraisy lainnya, hingga akhirnya Bilal pun disiksa dijemur di bawah terik matahari, diseret mengelilingi kota Makah. Pada saat itu Bilal hanya meneriakkan kata “Ahad!” hingga akhirnya datang Abu Bakar As-Shidiq yang membebaskan bilal dengan tebusan uang. Umayah dan algojo-algojonya yang mulai putus asa membujuk Bilal agar kembali kepada agama nenek moyang mereka itu pun seperti mendapatkan pencerahan memperoleh uang tebusan dari Abu Bakar tersebut. Bagi mereka harta lebih penting dari segalanya. Akhirnya Bilal pun dibawa Abu Bakar ke rumah Rasululllah.

2. Abdullah Ibnu Umi Ma’tum
Abdullah Ibnu Umi Ma’tum adalah salah seorang sahabat rasulullah yang diberikan anugerah oleh Allah berupa ketunanetraan atau kebutaan pada matanya. Ia merupakan sebab turunnya salah satu ayat AL-Qur’an. Pada awalnya rasululah menolak kehadirannya dengan bermuka masam dan berpaling tidak menanggapi keinginannnya untuk meminta pengajaran dan pengetahuan tentang agama Islam kepada beliau. Pada saat itu sasaran dakwah Rasululah adalah kaum pejabat Quraisy, dengan harapan bahwa masuknya para pejabat Quraisy tersebut dalam agama Islam akan mampu mempengaruhi kaum kafir Quraisy yang lain untuk memeluk Islam pula. Karena mengabaikan Abdullah Ibnu Umi Ma’tum tersebut lah akhirnya datang teguran dari Allah yaitu QS. ‘Abasa ayat 1-10 yang intinya bahwa rasulullah tidak diperbolehkan untuk mengabaikan Abdullah Ibnu Umi Ma’tum meskipun ia adalah seorang yang buta.
Setelah mendapatkan teguran berupa ayat Al-Qur’an tersebut maka Rasulullah pun mecari Abdullah Ibnu Umi Ma’tum untuk kemudian diberikan pendidikan dan pengajaran tentang keislaman.

3. Amar Ibnul Jamuh
Amar Ibnul Jamuh telah menginjak usia tua ketika ia memeluk agama Islam. Ia menjadi lebih tenang hatinya dan tenteram kehidupannya setelah memeluk Islam. Ia telah lumpuh saat ia masuk Islam. Pada masa itu ia melihat ketiga putranya tengah mempersiapkan diri untuk berperang berjihad di jalan Allah memerangi orang-orang kafir yang ingin menghancurkan agama Islam. Amar Ibnul Jamuh pun menyatakan keinginannya untuk ikut berperang dengan ketiga putranya tersebut. Akan tetapi ketiga putranya tersebut melarangnya karena ia sudah tua dan lumpuh, namun Amar Ibnul Jamuh memaksa dan benar-benar ingin berjihad membela agamanya, hingga akhirnya ia meminta pertimbangan Rasulullah tentang hal tersebut, dan Rasulullah pun memberikan izin beliau untuk berperang berjihad membela Islam.

B. Ditinjau dari yuridis Islam

Dasar hukum Islam yang utama addalah Al-Qur’an dan AL-Hadits.Adapun dalil naqli tentang anak berkebutuhan khusus adalah:
• Qs. ‘Abasa ayat 1 – 10 yang artinya :

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
2. karena telah datang seorang buta kepadanya.
3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).
4. atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
6. maka kamu melayaninya.
7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).
8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
9. sedang ia takut kepada (Allah),
10. maka kamu mengabaikannya.

Sebab turunnya ayat tersebut adalah kedatangan Abdullah Ibnu Umi Ma’tum yang datang secara tiba-tiba saat Rasulullah sedang menerima tamu tokoh-tokoh penting kaum Quraisy. Rasulullah berharap dengan berdiskusi dengan para tokoh-tokoh Quraisy tersebut akan mampu membuka hati mereka untuk memeluk Islam. Teguran dalam Qs. ‘Abasa tersebut juga merupakan pemberitahuan bahwa Rasulullah adalah juga manusia biasa yang juga mempunyai sifat-sifat kemanusiaan seperti berbuat kesalahan. Meskipun pada awalnya Abdullah Ibnu Umi Ma’tum adalah seorang yang kedatangannya diabaikan oleh Rasulullah akan tetapi di kemudian hari Abdullah Ibnu Umi Ma’tum ini adalah seorang yang sangat disayangi Rasulullah, bukan karena ia seorang yang buta akan tetapi karena Abdullah Ibnu Umi Ma’tum adalah seorang yang mempunyai kegigihan dan semangat tinggi untuk menuntut ilmu.

• Qs. An-Nuur ayat 61 yang artinya :

Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah ) dari rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya (yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri), salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.

Ayat tersebut mengandung makna kesetaraan yaitu bahwa tidak ada halangan bagi masyarakat untuk bergabung bersama dengan mereka yang berkebutuhan khusus seperti buta, pincang, bisu, tuli atau bahkan sakit. Mereka berhak untuk makan bersam, berkumpul bersama layaknya masyarakat pada umumnya. Asbabunnuzul dari QS. AN-Nuur ayat 61 ini adalah: pada masa itu masyarakat Arab merasa jijik untuk makan bersama-sama dengan mereka yang berkebutuhan khusus, seperti pincang, buta, tuli dan lainnya. Hal ini disebabkan cara makan mereka yang berbeda. Selain itu masyarakat Arab pada masa itu merasa kasihan kepada mereka yang berkebutuhan khusus tersebut karena mereka tidak mampu menyediakan makanan untuk diri mereka sendiri. Akan tetapi Islam menghapuskan diskriminasi tersebut melalui QS. An-Nuur ayat 61. Masyarakat tidak seharusnya membeda-bedakan atau bersikap diskriminasi terhadap anak berkebutuhan khusus.

• QS. Al Hujurat ayat 13 yang artinya :

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dan menjadikannya dalam berbagai suku bangsa agar manusia tersebut saling mengenal. Potongan ayat tersebut bermakna bahwa manusia dianjurkan untuk dapat saling mengenal dan bergaul dengan manusia lain dengan tidak mem-beda-bedakan satu dengan lainnya. Dalam potongan ayat tersebut tidak dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia dan menjadikan manusia tersebut dalam berbagai suku dan bangsa untuk saling mengenal, kecuali yang buta, tuli, atau jenis kecacatan lainnya. Tak ada istilah diskriminasi dalam potongan ayat tersebut. Potongan ayat selanjutnya adalah bahwa sesungguhnya manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah manusia yang paling bertaqwa. Tidak pula dikatakan dalam potongan ayat tersebut bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah manusia yang baik rupanya atau hal-hal yang bersifat inderawi lainnya. Artinya bahwa setiap orang baik yang berkebutuhan khusus maupun tidak berkebutuhan khusus harus senantiasa meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

• QS. At-Thiin ayat 4-6 yang artinya :

4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
5. Kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

Allah menciptakan manusia di muka bumi ini dalam keadaan yang paling sempurna. Tidak ada istilah cacat di dalamnya, dan seseorang yang disebut cacat oleh masyarakat itu adalah juga sempurna. Setiap manusia memiliki kekhasannya masing-masing. Sedangkan mereka yang menyebut seseorang “cacat” berarti mengatakan bahwa Allah telah salah menciptakan manusia, mahlku-Nya, atau mereka telah mencela ciptaan-Nya.

Sebuah hadits yang menyatakan bahwa Allah tidak melihat seseorang dari wajahnya, tubuhnya, akan tetapi Allah melihat seseorang dari hatinya.

Dari hadits di atas jelas bahwa kecantikan, ketampanan dan keindahan tubuh tidak akan berarti apa-apa jika ia tidak memiliki hati yang baik.

Dari pemaparan di atas jelas bahwa Islam tidak mengenal diskriminasi terhadap anak berkebutuhan khusus. Setiap manusia sama di hadapan Allah kecuali amal perbuatan dan ketaqwaannya.

Penulis : Presti Murni Setiati, SPd (Guru PAI SLBN Sragen)
sumber

Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s