Hindarilah Hal-Hal Berikut dalam Mendidik Anak


Setiap orang tua pasti memiliki cara mendidik yang berbeda-beda untuk anaknya. Lingkungan juga menjad salah satu hal yang harus diperhatikan. Linkungan yang kondusif yang merupakan prasyarat untuk mencapai tujuan harus diciptakan sedeikian rupa. Bagaimanakah cara kita sebagai orangtua dalam mendidik anak?

Dengan kekerasankah atau dengan kasih sayang? Jika anak di didik dengan cara kekerasan, ia akan mengadopsi cara-cara yang sering ia lihat ke dalam kehidupannya kelak dan memiliki watak yang keras dan memiliki sifat pemberontak namun jika dididik dengan kasih sayang, maka anak akan memakai cara yang sebaliknya. Mendidik anak untuk disiplin tidaklah harus memakai cara kekerasan karena dengan kekerasan membuat anak takut untuk melakukan sesuatu.

Anak yang dibesarkan dalam situasi keluarga yang nyaman tentu berbeda dengan anak yang selalu diberi hukuman fisik oleh orang tuanya. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang tidak tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anak pun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan.

Memiliki anak dengan sikap dan perilaku yang baik menjadi dambaan setiap orangtua. Untuk itu ketika mendidik anak, anda harus memahami beberapa hal yang harus dihindari dalam mendidik anak:

1. Menuntut anak harus sempurna

Orang tua menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap atau target tertentu yang umumnya melebihi kemampuan yang wajarnya dimiliki anak. Akibatnya, anak akan terobsesi untuk meraih prestasi yang diharapkan orang tuanya. Ia juga akan menjadi terlalu keras dan kritis terhadap dirinya sendiri.

2. Jarang memberi perhatian

Orang tua hanya menyediakan sedikit waktu untuk memperhatikan setiap perkembangan anak, atau membantu anak menempuh tahap demi tahap perkembangannya. Akibatnya, anak tak mampu membina hubungan dengan lingkungannya dan akan tumbuh menjadi anak yang impulsif.

3. Terlalu lemah dalam mendidik anak

Seperti contoh selalu memenuhi semua permintaan anak. Anak tidak diajar untuk mengenal hak dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi terlalu penuntut, impulsif (gampang melakukan tindakan tanpa perhitungan), egois, dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain.

4. Orangtua bertindak otoriter terhadap anak

Seperti orang tua terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk menentukan keinginannya sendiri, atau untuk mengembangkan minat dan kegiatan yang ia inginkan. Akibatnya, anak akan menjadi lamban, selalu bekerja sesuai perintah, tidak memiliki pendirian, dan suka melawan.

5. Tidak pernah memberikan anak kepercayaan

Orang tua selalu meramalkan kesalahan yang belum tentu dilakukan anak. Orang tua juga selalu mengkritik anak, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya tak perlu kritikan. Akibatnya, anak akan menjadi seorang yang pesimis, rendah diri, dan cenderung mengembangkan hal-hal yang selalu dilarang orang tua.

6. Mudah khawatir terhadap kesehatan si Anak

Orang tua terlalu berlebihan mencemaskan kondisi fisik anak. Padahal, secara obyektif, anak sehat. Sakit sedikit saja, orang tua cemasnya minta ampun. Akibatnya, anak akan mudah merasa tak sehat dan ikut merasakan kecemasan yang sama. Enggan bermain, takut jatuh, dan sebagainya.

7. Memanjakan anak secara berlebihan

Misalnya, terus-menerus menghujani anak dengan barang-barang mahal atau memberikan pelayanan istimewa, tanpa mempertimbangkan apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak. Akibatnya, anak bisa menjadi anak yang mudah bosan, kurang inisiatif, dan tak memiliki daya juang.

8. Menghukum anak dengan kekerasan fisik

Orang tua bersikap agresif terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak, dan cenderung memilih memberikan hukuman fisik dengan alasan mengajarkan disiplin. Watak yang dimiliki anak akan menjadi kerasdan pemberontak. Bisa jadi anak akan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar dilakukan dan akan melakukan hal yang sama terhadap keluarganya kelak.

9. Membeberkan kekurangan anak

Orang tua cenderung melecehkan keberadaan anak dengan sering mengolok-olok dan mengungkapkan kekurangan anak di depan orang banyak. Akibatnya, anak akan merasa tidak dihargai dan rendah diri sehingga tidak memiliki rasa percaya diri dalam bersosial.

10. Menolak kehadiran anak

Jenis kelamin anak tak sesuai dengan harapan orang tua, sehingga orang tua cenderung menolak menjadikan anak sebagai bagian dari keluarga. Akibatnya, semua tindakan yang dilakukan orang tua selalu merugikan anak. Anak bisa rendah diri dan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap orang tua.

Hindarilah sikap ambisius kita sebagai orangtua untuk melihat apa yang didambakan oleh kita dengan menyuruh anak harus mengikuti perintah orangtua.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s