Sekolah alam sebagai salah satu jawaban terhadap tantangan era globalisasi


Oleh:  Salwa (wawa.live@yahoo.co.id)

Ada sebuah anekdot tentang masa depan. Kelak jika seorang anak di tanya, “darimanakah telur itu berasal?”, dengan spontan ia akan menjawab, “telur berasal dari supermarket”. Lalu “bagaimanakah cara ayah mendapatkan uang untuk membeli telur”? Ia akan menjawab “ Kan tinggal mengambilnya di ATM”. Mungkin orang akan tertawa ketika mendengar cerita di atas, namun bukankah itu sebuah ironi?. Di abad yang memiliki kemajuan seperti roket yang melesat, segalanya memang bisa diakses dengan mudah. Tekhnologi telah menyajikan tentang itu, namun tak menutup kemungkinan cerita diatas menjadi kenyataan, sebab di masa yang akan datang, tak semua anak-anak dapat bersentuhan langsung dengan alam sekitarnya, Kini banyak ruang bermain yang hilang dari lingkungan sekitar kehidupan mereka. Tempat bermain yang alami memang tak tergantikan dengan tempat bermain buatan, walau dengan tekhnologi yang modern.


SEKOLAH ALAM SEBAGAI PENYEIMBANG

Sekolah kini telah identik dengan sebuah bangunan megah dengan tembok-tembok yang menjulang, coba, apa yang sering kita bayangkan, apa yang tergambar dalam benak kita jika mendengar kata sekolah. Lalu, coba kita bandingkan, apa yang ada dalam benak kita, jika kita mendengar kata pendidikan? Apakah seorang guru yang disiplin, dengan penggaris kayu di tangan, dan murid-murid yang duduk bersedekap dengan tangan diatas meja, memakai baju putih rapi dengan rambut yang tersisir basah. Atau mungkin rumus-rumus matematika dan fisika?.

Sekolah dan pendidikan, telah menyajikan wajah yang lain, dengan batasan-batasan yang kita ciptakan sendiri, atau tak sengaja tercipta karena pemahaman yang sempit tentang keduanya. Bukankah di zaman globalisasi, semuanya serba tak terbatas oleh sekat-sekat jarak dan waktu? Hendaknya kita mulai memahami tentang itu.

Sebuah gagasan cerdas, mulai di kembangkan di Negara berkembang Indonesia, Negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Hutan, laut, gunung, air, udara,dengan beribu pulau hijau yang terbentang dari sabang di Aceh sampai Merauke di Papua, adalah surga bagi kehidupan didalamnya. Termasuk bagi anak-anak yang tumbuh berkembang dengan tersenyum. Gagasan tersebut adalah ‘Sekolah Alam’.

Indonesia adalah bagian dari negara-negara di dunia. Globalisasi sangat dirasakan di Indonesia, hampir di segala bidang. Cepatnya arus globalisasi, kadang membuat Negara berkembang dengan dua ratus juta lebih penduduknya ini terengah-engah karena harus berkejaran dengan waktu dan arus tekhnologi.

Termasuk globalisasi dibidang pendidikan, adalah perhatian yang penting dalam hal ini. Kemoderenan hendaknya tidak membuat kita terbang terlalu tinggi sehingga membuat kaki anak-anak kita tak lagi menjejak di bumi. Jalan tengah adalah dengan adanya sarana pendidikan yang memadukan keduanya, antara kemoderenan dan alam.

Kita berharap anak-anak kita tidak hanya bisa bermain namun juga kreatif. Bermain dengan permainanan yang beraneka ragam, dan bukan hanya bermain playstation, Nintendo, atau game online di rumah. Tentu banyak permainan yang membuat mereka lebih kreatif. Kita berharap, anak-anak kita bisa bersosialisasi, namun bukan hanya lewat facebook atau e-mail di komputer. Biarlah mereka mengembangkan kepribadiannya dengan tatap muka bersama lingkungan sosialnya. Bersahabat dengan teman-teman dari berbagai latar belakang sosial, agama, maupun budayanya, tentu sebagai pelajaran berharga bagi mereka. Kita berharap anak-anak mengerti perihal alam ini, namun bukan hanya dengan browsing di dunia maya untuk melihat sawah, ternak, atau lautan, namun mereka bersentuhan dengan alam sekitanya setiap saat, tanpa menunggu hari libur sekolah atau menunggu program outbound dan rekreasi sekolah.

Manusia dianugrahi indra penglihatan, sentuh, rasa, raba, dengar, dan penciuman untuk mengerti alam sekitarnya. Sekali lagi sekolah alam menjadi sebuah sentuhan di dunia pendidikan. Anak-anak di sekolah alam akan mengerti materi yang di sajikan tanpa merasa bosan karena metode belajar sambil bermain adalah ciri khas dari sekolah alam. Dengarlah, betapa cerianya tawa mereka ketika tangan kecil mereka bersentuhan dengan lumpur di sawah, mereka berkejaran di pematang sawah, di pantai yang landai, sambil belajar beraneka ragamnya ciptaan Tuhan yang maha kuasa. Mereka mengerti secara langsung, tanpa harus berimajinasi atau hanya melihat gambar-gambar, bagaimanakah bentuk bintang laut atau keong misalnya. Ini adalah pengalaman tak terlupakan bagi mereka, bahkan hingga mereka dewasa kelak.

WAJAH SEKOLAH ALAM DI INDONESIA

Tantangan adalah kata yang tepat dalam dunia kompetisi saat ini. Termasuk pada dunia pendidikan. Pengaruh globalisasi yang masuk si segala lini kehidupan, memberikan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Globalisasi tentu tak hanya identik dengan tekhnologi, namun faktor-faktor alamiah juga merupakan elemen dasar bagi berkembangnya tekhnologi itu sendiri. Alam tentu bukan hanya dapat di ekploitasi secara materi saja, namun begitu banyak sesungguhnya yang bisa kita pelajari dari alam.

Dalam bukunya Du de ‘education, Jean Jacques Rousseau ( 1712-1718) menggambarkan cara pendidikan anak sejak lahir hingga remaja. Rousseau menyarankan ‘back to nature’ dan pendekatan yang bersifat alamiah dalam pendidikan anak, yaitu : ‘Naturalisme’. Naturalisme berarti, pendidikan akan di peroleh dari alam, manusia atau benda, bersifat alamiah sehingga memacu berkembangnya mutu seperti kebahagiaan, sportifitas dan rasa ingin tahu. Dalam prakteknya, naturalisme menolak pakaian seragam (dress code), standarisasi keterampilan dasar yang minimum. dan sangat mendorong kebebasan anak dalam belajar. ( Artikel pendidikan network- Pendidikan Usia Dini yang Baik Landasan keberhasilan pendidikan Masa depan, Drs. H. Agus Ruslan, M. M.Pd).

Pada tahun 1997, sekolah alam mulai menampakkan eksistensinya di Indonesia. Gagasan tersebut tercetus dari seorang mantan staf ahli Mentri Negara BUMN, beliau adalah Lendo Novo.

Ir. Lendo Novo adalah alumni tekhnik perminyakan Institut Tekhnologi Bandung (ITB). Sejak tahun 1992, lendo merancang konsep sekolah alam, yaitu bagaimana murid-murid bisa belajar sambil bermain. Di tahun 1997, barulah beliau bisa  mewujudkan berdirinya Sekolah Alam, yaitu di Ciganjur, Jakarta Selatan.

DUKUNGAN PEMERINTAH

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada puncak peringatan hari Pendidikan Nasional 11 Mei 2010 di istana negara mengatakan bahwa reformasi di bidang pendidikan harus terus di tindaklanjuti dengan menggunakan dua perspektif, yaitu mengembalikan pendidikan pada hakekatnya serta mengembangkan inovasi. Beliau juga mengatakan untuk mengembangkan pendidikan pada nilai-nilai dasarnya, maka harus ditinjau kembali kurikulum, metodologi, serta sistem evaluasi. Sedangkan untuk mengembangkan inovasi masa depan, maka anak didik harus di pacu mengembangkan keingintahuan intelektual dengan kebebasan berimaji konstruktif sebebas-bebasnya agar kreatifitas dapat tumbuh dalam pikiran mereka.

Yang perlu di garisbawahi pada pernyataan presiden adalah, mengembalikan pendidikan pada hakekatnya serta mengembangkan inovasi. Bukankah hakekat dari pendidikan adalah pengajaran tata perilaku yang seimbang antara material dan spiritual? Hal inilah yang dikembangkan di sekolah alam dengan pengembangan kurikulum yang memadukan pengajaran positif, pemikiran ilmiah, pengajaran kepemimpinan, serta jiwa kewirausahaan ( entrepreneurship).

Jelas ini adalah inovasi baru, dimana proses mengajar dan belajar bisa berlangsung dengan sangat menyenangkan. Terjadi di beberapa sekolah alam di Indonesia, murid-murid  justru senang bersekolah sehingga mereka tak menunggu-nunggu waktu pulang, mereka ingin agar esok pagi segera menjelang agar bisa bersekolah lagi. Ini adalah cara belajar mengajar yang unik dan menyenangkan bagi murid, orang tua, dan guru.

Pada peringatan hari Pendidikan Nasional tersebut salah satu sekolah alam di Indonesia juga menerima penghargaan sebagai sekolah perintis pendidikan karakter. Pendidikan karakter mutlak di butuhkan di zaman seperti ini, sebagaimana kata wakil mentri pendidikan nasional, Fasli Jalal, bahwa untuk mencapai keberhasilan dalam pembangunan karakter, harus diciptakan komunitas karakter sehingga pandidikan karakter tidak hanya bergaung di sekolah saja, tetapi juga sampai ke seluruh lapisan masyarakat.

SEKOLAH ALAM DAN GLOBALISASI

Globalisasi memang merupakan keuntungan, dimana informasi bisa di akses tanpa batas. Globalisasi juga sebagai motivasi bagi negara-negara berkembang untuk memacu eksistensinya agar lebih kompetitif di segala bidang, tak terkecuali bidang pendidikan. Pendidikan yang  baik bagi masyarakat adalah prasyarat mutlak bagi sebuah Negara jika ingin eksis di era globalisasi sekarang ini. Bagaimana mungkin sebuah Negara yang masyarakatnya kurang dalam skill dan knowledge untuk bisa bersaing di dunia internasional? Tentu akan sangat sulit.

Yang pertama adalah masalah biaya pendidikan. Pada beberapa negara berkembang, biaya pendidikan terasa sangat mahal bagi masyarakat. Tidak semua kalangan bisa mengenyam pendidikan hingga jenjang sekolah tinggi. Pemerintah memang telah memberikan anggaran yang cukup besar dalam bidang pendidikan, namun masih saja dirasakan oleh masyarakat, biaya pendidikan terasa amat mahal dan tak terjangkau.

Titik fokus yang membuat tingginya biaya pendidikan sering dikaitkan dengan pengadaan sarana-sarana penunjang belajar, seperti gedung sekolah, laboratorium, perpustakaan, dan lain sebagainya. Hal ini tentu tak bisa dihindari, karena memang menjadi penunjang kelancaran belajar mengajar.

namun untuk orang-orang yang kreatif, tentu bukan menjadi kendala. Bagi pemikiran yang inovatif, sekolah bukan lagi berwujud gedung yang megah, namun di mana saja ‘sekolah’ bisa diadakan. Di ladang, di pantai, di pasar, di peternakan, di pabrik, di mana saja. Kegiatan  belajar mengajar bisa di lakukan. Metode inilah yang diaplikasikan pada kurikulum belajar sekolah alam. Anggaran gedung yang menghabiskan banyak uang bisa diminimalkan.

Kedua, dampak dari ekploitasi alam yang  berlebihan adalah pemanasan global ( global warming), ruang terbuka hijau kini banyak berganti dengan beton-beton gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Kesadaran akan pentingnya pemeliharaan alam semakin menipis. Hal inilah yang harus kita perbaiki, generasi yang akan dating harus mengerti akan hal tersebut.

Sekolah alam juga memiliki program-program ramah lingkungan, mengajak anak didik mencintai alam. Tentu hal ini seiring dengan program globalisasi yang berkaitan dengan pelestarian alam guna mengantisipasi global warming. Mengajak anak mencintai lingkungan sejak dini, mengajari mereka menanam pohon-pohon, mengajak mereka mengerti apa arti pentingnya udara yang bersih, air yang jernih, bahaya pencemaran, bahkan mengajak mereka mengenal kebijakan-kebijakan tentang perlindungan alam sekitar. Tentunya hal ini akan memberikan dasar yang kuat bagi pelestarian lingkungan di masa yang akan dating. Karena merekalah yang nanti akan berperan besar, setelah mereka dewasa. Sekolah alam kini mulai menampakkan hasil atas kiprah peranannya, setelah sepuluh tahun lebih berjalan, dengan program-program cerdasnya.

Ketiga, banyaknya orang tua yang ‘panik’ terhadap kemajuan di era informasi ini, membuat anak-anak ‘terpaksa’ mengikuti keinginan orang tuanya, dengan bersekolah di sekolah-sekolah yang memberikan beban tugas berat bagi anak didiknya. Sebab pandangan klasik orang tua yang ingin agar anaknya bisa hidup dengan kemampuan serta kepandaian di masa yang akan datang. Anak dipacu agar memiliki keahlian sedini mungkin, agar di masa ia dewasa nanti bisa mendapatkan penghasilan dan keahlian atau bisa bekerja dengan kemampuan otaknya. Padahal belum saatnya anak memikirkan tugas-tugas sekolah yang begitu rumit. Hal ini sering membuat anak kehilangan waktu bermain yang menjadi masa paling menyenangkan dan tak terlupakan dalam hidupnya kelak. Sedangkan bagi orang tua yang kurang mampu, kebutuhan ekonomi keluarga yang besar, seringkali membuat anak-anak harus meninggalkan waktu bermain, bahkan waktu belajar, karena harus bekerja membantu ekonomi keluarga. Hal ini sering terjadi di negara-negara berkembang.

Sekolah alam, juga tampil sebagai solusi bagi hal tersebut. Bagi orang tua yang mampu dalam hal financial, ia akan mengerti tentang pentingnya masa bermain bagi putra-putrinya, bahkan bisa mengajarkan karakter sosial pada anaknya. Anak juga di ajak mengerti bahwa kekayaan bukanlah satu-satunya pemecahan masalah, bagi problem hidupnya kelak. Bagi orang tua yang kurang mampu, ia dapat bersekolah di sekolah alam dengan biaya yang terjangkau. Akhirnya masalah tersebut dapat teratasi. Pendidikan pun dapat berlangsung untuk eksisnya generasi di era globalisasi yang ketat ini.

Keempat, bagi guru di sekolah alam, otomatis harus memacu kompetensi serta kreatifitasnya karena sekolah alam menghendaki pengajar-pengajar yang kreatif dan inovatif. Tentu pengajar yang akan terpacu untuk memperdalam keahliannya dengan metode-metode pengajaran yang up to date. Di era globalisasi ini, jalinan informasi serta komunikasi harus dilakukan untuk menambah pengetahuan serta skill bagi pendidik, disamping ketauladanan dalam membina anak didik. Pola komunikasi antara sekolah serta orang tua murid haruslah dibina dengan baik, agar ‘sekolah’ bisa berlangsung baik di sekolah alam maupun di rumah. Tentu pola komunikasi ini juga memerlukan kepiawaian seorang pendidik, ketika berhadapan dengan orang tua murid yang masih berpandangan awam terhadap metode-metode kurikulum di sekolah alam. Ini adalah tantangan tersendiri bagi pelaksana  dan pendidik di skeolah alam. Pada akhirnya pendidik akan memiliki keahlian komunikasi yang baik, bukankah komunikasi yang baik sangat diperlukan di era informasi ini?

KESIMPULAN

Disamping sebagai sarana belajar dan mengajar, sekolah alam juga merupakan jawaban bagi tantangan globalisasi. Globalisasi memang merupakan tantangan yang tak bisa kita hindari, namun secara tak langsung globalisasi juga merupakan motivasi yang kuat untuk memajukan potensi generasi. Perilaku yang kreatif, kreatifitas yang optimal, kepemimpinan yang kuat disertai intelektual yang cerdas merupakan prasyarat mutlak untuk menjawab tantangan tersebut. Sekolah alam telah berupaya untuk mewujudkannya dengan segala kompetensi yang dimiliki.

Seorang yang bijak berkata,’Gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Sekolah alam menggeliat dalam kesederhanaanya, namun betapa banyak bintang-bintang kecil yang terang berkilauan di sana, berkedip, semakin terang dan melesat menuju masa depan yang gemilang berkilauan. ( Salwa).

sumber

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s